Lelaki Tua Itu! Tak sedikitpun aku menaruh iba padanya.

31Agu10

Pagi hari tak kalah sibuk lelaki tua itu berkativitas untuk mengais rezeki sebagaimana layaknya orang-orang kebanyakan. Dalam gerobaknya terlihat seonggok tubuh yang sepertinya sedang mendekap seorang anak kecil. Oh..rupanya itu istrinya dan anaknya yang masih tertidur pulas bercampur baur dengan barang rongsok yang dipungut dari sisa-sisa sampar dipinggir jalan. Aku melihatnya sepintas lalu dalam sebuah bis kota ketika akan pergi untuk beraktivitas.Sore hari ketika semua orang mulai menghentikan aktivistasnya, lelaki tua itu pun menghentikan aktivitasnya seharian setelah berkeliling mengitari perumahan-perumahan elit berharap ada sampah-sampah yang masih layak untuk digunakan dan bisa untuk dijual.­­­­­­­ Lelaki tua itupun mulai membersihkan badannya yang telah terkotori oleh debu-debu jalanan dan bau peluhyang menempel dibadannya, sedang istrinya tampak sedang memandikan anaknya. Mereka mandi disebuah kali kecil disekitar perumahan elit yang dimanfaatkan untuk saluran sanitasi rumah-rumah elit itu. Aku melihatnya sepintas lalu dalam sebuah bis kota ketika pulang menuju tempat peristirahatan.

Malam hari takkala semua orang akan beranjak keperaduan untuk beristirahat, lelaki tua itu pun mulai menghamparkan permadani yang terbuat dari bahan kardus bekas. Tampak lelaki tua, istri, dan anaknya tertidur dengan pulas berselimutkan kain songket rombeng, wajah lelaki tua itu nampak lesu setelah seharian berkeliling mengais rejeki, wajah istrinya nampak meringis menahan lapar setelah ada rejeki sepiring nasi berbagi dengan anaknya. Aku melihatnya sepintas lalu dalam sebuah bis kota ketika pulang mencari makan dikawawa wisata kuliner.

Lelaki Tua Itu! Tak sedikitpun aku menaruh iba padanya.

Dalam pikirku, itu karena engkau mungkin dulu ketika masih muda disuruh untuk sekolah oleh orang tua engkau tidak mau, walaupun orang tua mu dulu sanggup membiayaimu hingga menyekolahkan ke perguruan tinggi. Lebih celaka lagi ketika engkau dulu sekolah engkau malah sering membolos dari sekolah dan itu berarti mengelabui kedua orang tuamu. Sehingga sekarang engkaupun tidak mempunyai keahlian untuk berusaha setelah di PHK perusahaan yang memperejakanmu.

Dalam pikirku, itu karena engkau mungkin dulu ketika masih muda, ketika engkau memiliki pekerjaan yang tetap, penghasilan yang cukup, mungkin engkau tidak pernah terpikirkan untuk bersyukur dan berbagi dengan orang lain yang kurang beruntung dari engkau, bahkan engkaupun menafikkan Yang Maha Pemberi rejeki, sehingga kini engkaupun dipaksa untuk merasakan bagaimana ketika engkau berada pada posisi tidak memiliki sesuatu apapun.

Dalam pikirku, dasar lelaki tua! Teganya engkau membawa istri dan anakmu berada dalam kesengsaraan.

Setibanya di tempat peristirahatan kurebahkan badan dan sedikit bertafakur apa yang telah aku saksikan tadi pag, siang dan malam, seorang lelaki tua yang menarik gerobak bermuatan anak istrinya.

Astagfirullah!

Ternyata yang kasihan itu bukan lelaki tua itu, melainkan aku, kalian dan kita. Ya! Kita kasihan dengan diri kita yang telah dibekali kekayaan ilmu oleh orang tua masih berkeluh kesah dengan keadaan dan bahkan tidak memanfaatknnya untuk memberikan manfaatyang lain kepada orang lain maupun untuk diri sendiri.

Ternyata yang kasihan itu bukan lelaki tua itu, melainkan aku, kalian dan kita. Ya! Kita kasihan dengan diri kita, ketika masih muda, ketika kondisi fisik masih segar bugar, kita masih saja malas untuk beribadah kedapa Dzat Maha Penguasa Alam Raya ini. Bahkan kecenderunagn kita tidak memanfaatkan waktu luang utnuk hal-hal yang bermanfaat.

Terima kasi lelaki tua! Engkau telah memperngatiku dan aku hanya bisa berdo’a semoga engkau ada dalam lindungan dan ampunan Tuhan, begitupun aku, engkau dan kita. Amiiien.



No Responses Yet to “Lelaki Tua Itu! Tak sedikitpun aku menaruh iba padanya.”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 492 pengikut lainnya.