Surat untukmu, Ibu!
Assalamu’alaikum,
Segala puji aku panjatkan kehadirat Allah Ajja wajala yang telah memberikan kesehatan sehingga aku dapat beribadah kepadaNya semampuku. Shalawat serta salam aku sampaikan kepada junjungan Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wassalam, keluarga dan para sahabat serta para pengikut-pengikutnya hingga akhir jaman.
Wahai ibuku..
Aku menuliskan surat ini manakala dirundung kegelisahan dalam menghadapi hidup ini. Semenjak Aku harus meninggalkan rumah dimana aku dibesarkan dengan kasih sayangmu untuk mengarungi hidup ini, tiap-tiap malam aku selalu teringat akan dirimu, juga ayah. Kain sarung yang engkau berikan kepadaku menjadi penghapus air mata ketika aku meneteskan air mata jika aku teringat akan dirimu. Aku mencoba menulis dan menggoreskan pena diatas secarik kertas ini, sekalipun keraguan dan rasa segan hinggap, akankah engkau membacanya secara seksama.
Ibu…
Sepanjang umur yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi bungkuk, tak sekuat seperti dulu lagi, ramputmu kini telah memutih, tubuhmu mulai lunglai lemas. Matamupun sudah mulai memudar dari ketajaman, karenanya engkaupun mungkin tak akan menghiraukan isi surat ini sebagai goresan tinta isi hati anakmu.
Ibu…
28 tahun yang lalu engkau melahirkan aku, mungkin engkau merasakan kebahagiaan kala itu melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi lelaki sejati. Namun dibalik itu kini aku semakin tahu, engkau selalu menjagaku dalam kandungan selama 9 bulan, masa-masa itu merupakan masa paling sulit, untuk tidur, berdiri, makan dan bernafaspun engkau kesulitan. Setelah aku lahir kedunia ini kesulitanmu bukannya berkurang malah sebaliknya makin bertambah, engkau selalu memandikanku, memberikan aku makan, membelikan dan memilih pakaian yang bagus. Pada umur sekolah dasar engkau selalu menemani aku belajar hingga lonceng bel sekolah berbunyi, sedang sore harinya engkaupun harus juga menyediakan masakan untuk kita santap bersama-sama dengan ayah. Malam hari bukannya engkau istirahat melainkan engkau membersihkan piring-piring bekas kita makan bersama, setelah itu engkau melicin pakaian yang hendak dipakai esok pagi untuk aku pakai ke sekolah, hingga engkaupun dapat beranjak tidur pada waktu tengah malam.
Ibu…
Kala itu aku merasakan engkau menjadikan aku seorang raja, setiap permintaanku engkau penuhi, bahkan engkau tak pernah lalai dalam melayaniku, mungkin kalau ada didunia ini seorang pelayan, engkaulah pelayan yang paling hina didunia ini, engkau tidak pernah diupah dan tak akan pernah minta upah dalam melayani anakmu ini. Jikalaupun meminta upah terhadapku, tak sanggup aku membayarnya, harta kekayaan yang ada didunia inipun bila dikumpulkan tidak akan sanggup membayar kasih sayangmu yang telah engkau berikan kepadaku dari kandungan hingga aku dewasa, yang ada engkau melayani aku dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, engkau sungguh mulia Ibu!
Ibu…
Anakmu kini sudah tumbuh dewasa, kini anakmu walaupun sedikit sudah dapat menghasilkan uang dari hasil bekerja. Ingin rasanya memberikan kebahagiaan untukmu. Aku akan membelikanmu masakan-masakan paling enak yang dulu belum pernah kita cicipi, pakaian akan kita pilih dan kita beli yang paling bagus dengan merek terkenal, pada hari libur kita akan menikmati liburan ke taman tamasya layaknya seperti orang-orang kaya. Tetapi kejadian yang sudah-sudah dimana aku selalu membawakan oleh-oleh setelah aku pulang dari luar kota, engkau tidak menampakkan wajah senang dan engkau malah mengatakan bahwa tidak menyukai makanan-makanan yang aku bawa. Ternyata sikapmu masih mengkhawatirkan anakmu bilamana menghadapi kehidupan ini dalam masa-masa sulit, maka dari itu engkau lebih senang bila uang itu ditabung dan kita makan seperti yang pernah dulu-dulu kita makan, apa adanya.
Ibu…
yang aku cemaskan saat ini adalah begitu banyak kesulitan-kesulitan yang hinggap dalam kehidupan ini adalah buah dari kedurhakaan anakmu selama dalam masa asuhanmu, walaupun aku yakin engkau tidak akan pernah mendo’akan suatu kejelekan untuk anakmu. Maka dari itu, Ibu maafkanlah anakmu dan ridho’ilah anakmu untuk mengarungi kehidupan ini, dan aku tak akan pernah berhenti untuk memintamu mendo’akanku.
Allahummaghfirli wali wa lidayya warhamhuma kama rabbayani shagira
Wassalam, Anakmu
Filed under: Tidak terkategori | Leave a Comment




No Responses Yet to “Surat untukmu, Ibu!”