Aku Harus Datang!

15Des10

Malam ini sebetulnya malam biasa seperti malam yang sudah-sudah, hanya memandang kosongnya dinding kamar yang memang tidak terdapat pajangan apapun dalam isi kamar, kurebahkan badan ini menghadap ke kanan dengan berbantalkan sebelah tangan berharap bisa memejamkan mata, namun tetap saja mata ini tidak bisa menutup dengan rapat. Kerebahkan badan ini menghadap kelangit-langit kamar dan kedua buah tanganku menyangga kepala, lalu aku mulai kembali untuk memejamkan mata, kembali berharap untuk dapat merapatkan kelopak mata dengan sempurna. Tetap saja mata ini tidak mau terpejam. Pada akhirnya kubuka mata ini dan kunyalakan lampu kecilku hingga suasana kamar menjadi temaram.

Entah apa yang ada dalam pikiranku, hingga mata ini tertuju pada sudut langit-langit kamar. Ada sesuatu yang bergerak-gerak sepertinya benda itu mengibas-bibaskan kepak-kepak sayap. Kucoba untuk mengerutkan kelopak mata dan mulai mengecilkan pupil, agar tingkat ketajaman mata ini dapat menangkap citra apa gerangan benda yang berada disudut langit-langit. Ah.. ternyata seekor kupu-kupu, peduli amat!

Kembali dalam keadaan rebahan, seketika aku berpikir tentang malam ini, ternyata malam ini bukan malam biasa seperti malam yang sudah-sudah. Malam ini adalah malam dimana esok harinya ada salah seorang kawanku yang akan diwisuda. Ya… dia kawanku satu angkatan atau tepatnya satu kelas, karena memang dalam satu tahun angkatan jurusan kami hanya mengadakan satu kelas, tidak lebih.

Kami disatukan dalam satu buah kelas perkuliahan, biasanya kelas kami diberi nama sesuai dengan tahun masuk, kebetulan kami masuk pada tahun 2002 sehingga kelas kamipun di namai dengan Angkatan 2002. Angkatan kami hanya dihuni sebanyak 42 orang, dan dalam satu tahun perkulihan, teman kami berkurang menjadi 38 orang, karena sebagian lagi ada diantara teman kami yang keluar dengan alasan kurang cocok antara minat dengan jurusan yang diambil. Hanya dengan sisa 38 orang jelas saja kami menjadi mengenal satu sama lain karena jumlah teman yang sedikit sehingga memudahkan kami untuk saling mengenal, belum lagi serangkaian acara kampus yang membentuk mental kami menjadi lebih mengenal satu sama lain. Dalam perjalanannya selama perkuliahan hati kami menjadi satu padu dalam ikatan bathiniah, kami seperti sudah menjadi saudara saja, bahkan mungkin lebih dari pada saudara.

Jelas saja perasaan itu muncul dikarena selama 5,6,7,8 tahun bukan waktu yang sebentar untuk kita berada dalam keadaan suka dan duka selama menjalani masa-masa perkuliahan. Kadangkala kita saling meminta pertolongan bilamana kita membutuhkan bantuan, dan kitapun saling memahami, yang lebih ekstrem lagi atas nama alasan berkunjung untuk belajar bersama untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar bersilaturahmi, padahal terselip maksud tujuan tertentu yaitu berharap ada sesuap nasi yang dapat dimakan, atau paling tidak dapat menjarah makanan kecil yang ada di kamar kostan. Perilaku-perilaku seperti inilah yang mendekatkan hati kita, karena pada akhirnya kita saling memahami dan memaklumi. Tak pelak lagi kamipun menjadi seperti saudara, tidak ada lagi batas, terbuka dan saling menjaga.

Salah satu diantara 37 temanku adalah dia yang akan diwisuda pada hari ini. Dia tidak jauh berbeda dengan temanku yang lainnya. Kami semua berteman, kami semua bersahabat, bahkan kami semua bersaudara. Namun seiring perjalanan waktu ada perasaan lain yang aku simpan pada dirinya, kukagumi kesederhanaannya, aku kagumi keramahannya dan aku kagumi kesholehannya. Hingga pada akhirnya rahasia perasaan dalam diri ini pada dirinya sudah bukan rahasia umum lagi, dan ini telah sampai kepada ketelinganya, yang pada akhirnya merubah kehidupan pertemanan kami, yang tadinya terbuka menjadi tertutup, yang tadinya dekat menjadi jaga jarak.

Pada awalnya kehidupan pertemanan kami berlangsung secara normal, kami belajar bersama kadang dalam satu kelompok, mengerjakan tugas, diskusi, observasi kami lakukan seperti biasanya bersama seluruh teman-teman kami. Namun semenjak perasaan ini tertambat pada dirinya dan diapun mengetahuinya, semuanya menjadi berubah. Kami sudah jarang satu kelompok lagi, untuk sekedar berbicarapun seperlunya, bahkan cenderung kita menjaga sikap bila saling berhadapan, dan yang lebih memilukan lagi adalah ketika dia menjadi tertinggal dalam menyelesaikan perkuliahnnya, mungkin saja ini dikarenakan ketidaknyamanan dalam mengikuti perkuliahan setelah semua teman-teman kami mengetahui ada sesuatu diantara kami berdua. Maafkan aku kawan, aku tak bermaksud menyakitimu seperti sekarang, aku hanya mencoba untuk terbuka terhadap perasaan ini.

Kini setelah aku datang kepadanya  dan aku memohonkan maaf yang sebesar-besarnya atas kekhilafanku dan engkaupun memakluminya, kehidupan pertemanan kami kembali seperti sediakala, kami bisa bersua kembali, kadang kita saling berbalas sms, perasaan segan sudah hilang, kini perasaan senang dan bahagia hinggap kembali pada diri ini, setidaknya aku dapat mengetahui kabarmu kawan. Aku sungguh bahagia kawan, terima kasih.

Ah.. Kupu-kupu tadi, dia masih mengibas-ngibaskan sayapnya yang indah, mengingatkan akan pada dirimu kawan, engkau bagaikan kupu-kupu, sayapnya yang indah penuh dengan berbagai corak warna dikibas-kibaskannya, tak jauh beda dengan dirimu kawan, engkau begitu memberi warna dalam kehidupan ini,  keindahan sikapmu, kelembutan hatimu, aku sangat rindukan.

Aku harus datang! aku harus datang menghadiri acara wisudaanmu kawan, hari dimana tumpah-ruah berbagai macam kebahagiaan, akupun ingin ikut larut dalam kebahagiaanmu. Karena malam ini aku begitu cemas, aku takut setelah hari wisuda ini, kitapun kembali kepada keadaan yang aku takutkan, dimana kita kembali tertutup kembali, kita kembali menjaga jarak kembali, pada akhirnya kitapun tidak akan saling menyapa. Biarlah hari esok hari terakhir aku bertemu denganmu, terakhir aku melihat senyum manismu. Aku harus datang! aku harus datang! Dan harapanku besok bukanlah pertemuan terakhir kita.  Dan aku hanya ingin mengucapkan ”Selamat! semoga engkau mendapatkan keberkahan dengan statusmu yang baru sebagai seorang sarjana”. Amien



2 Responses to “Aku Harus Datang!”

  1. 1 esti lestari septianti

    ya udah di baca. jadi puitis neh sekarang.

    ya wajar perasaan mah, ya Allah SWt yang menganugerahkan.

    minta petunjuk aja sama Dia yang Maha Mengetahui.

    oiya jangan sampai perasaan itu membuat bimbang akan masa depan.
    terutama kepergian ke malaysia.

    istikharah, sangat lebih baik. buka lagi petunjuk hidup qta, umat muslim. Al Quran.

    dekati orang2 yang dekat dengan Al Quran. Qalbu akan tentram.

    aku netral.

    belajar memafkan diri sendiri, orang tua, dan orang lain. jauh lebih melegakan.

    oiya, kalau poto senyum atuh, biar seger kelihatannya, kan senyum ibadah, okeh?

    • 2 esti lestari septianti

      thanx 4 d’flowers, white roses.

      I like it.

      kalo bunga bank mah haram.

      kalo bagi hasil, boleh.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 492 pengikut lainnya.