Tertundanya Sesuatu Yang Teristimewa

23Des10

Sejak dari awal mula 3 tahun yang lalu, aku “dijanjikan” sesuatu yang mungkin bagi setiap orang merupakan sebuah impian, maka dari itu akupun mulai mempersiapkan segala sesuatunya terutama berkaitan dengan kemampuan komunikasi, tiap-tiap malam atau disela-sela luangnya waktu aku sempatkan diri untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, karena kemampuan berkomunikasi ini merupakan salah-satu syarat mutlak yang harus dikuasai untuk menggapai apa yang dijanjikan itu. Selain dari terus mengasah kemampuan, ada satu hal yang terus-menerus aku lakukan yaitu selalu untuk tetap berdo’a agar dimudahkan dan dilancarkan. Bahkan empat bulan terakhir, tepatnya pada bulan syawal, aku fokuskan untuk bersilahturahmi kepada orangtua-orangtuaku yang aka dikampung untuk ngalap barokah seraya meminta do’a agar diberikan kebaikan-kebaikan oleh Allah SWT, karena aku yakin do’a para orangtua sangatlah mustajab, tak lupa pula aku mintakan do’a dari teman-teman aku semoga apa yang aku cita-citakan segera tercapai.

Hari yang dijanjikan itupun semakin hari semakin mendekat, hari-haripun mulai disibukkan dengan segala bentuk persiapan yang diperlukan, pengurusan dokumen-dokumen telah diselesaikan dengan baik, berkas-berkas pendaftaranpun sudah semuanya lengkap, rasanya tidak ada kekurangan sesuatu apupun perihal dengan dokumen-dokumen yang diperlukan, semua persyaratan telah terpenuhi. Kini dengan rasa optimisme yang tinggi aku menunggu hari yang dinantikan itu. Dalam penantian hari yang dijanjikan itu aku terus berdo’a dan berdo’a semoga apa yang aku cita-citakan dilancarkan dan dijauhkan dari halangan yang bakal melintangi perjalanan menuju pencapaian apa yang dicita-citakan itu.

Hari yang dijanjikanpun semakin mendekat, sebuah surat akan segera aku dapatkan yang berisi sebuah penawaran, kalau memang aku ingin segera mencapai apa yang diinginkan agar segera melakukan apa yang diisyaratkan dalam surat itu. Surat itu sudah ada ditangan, perlahan aku buka dengan penuh harapan surat itu memang betul-betul surat penawaran yang memang menawarkan aku untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya agar aku dapat meraih apa yang ”dijanjikan”. Namun setelah surat penawaran itu aku baca secara seksama ternyata surat itu memang menawarkan aku untuk segera memenuhi penawaran ini dengan ada salah satu ”syarat khusus” yang harus segera dipenuhi sesegera mungkin, untuk melancarkan proses pencapaian apa yang di janjikan itu, dan apabila ”syarat khusus” ini tidak segera dipenuhi makan diberikan kesempatan sampai dengan 6 bulan kedepan, artinya masih ada kesempatan sampai bulan juni 2010 untuk segera memenuhi persyaratan khusus itu.

Segala daya upaya aku lakukan untuk memenuhi persyaratan khusus itu, namun seakan-akan semua jalan sepertinya menutup langkah untuk memenuhi persyaratan itu, yang pada akhirnya menutup jalan sementara untuk menggapai apa yang aku cita-citakan. Pada Akhirnya akupun memutuskan utnuk menunda keberangkan menuju pencapaian apa yang dicita-citakan hingga 6 bulan kedepan, dengan berusaha untuk selalu meningkatkan kualitas diri hingga mencapai persyaratan yang ditentukan.

Namun pada akhirnya segala sesuatu tentunya ada hikmahnya. Dibalik tertundanya keberangkatan pencapaian cita-cita ini ada sesuatu yang hendak Allah tunjukkan kepada hambaNya bahwa apa yang menjadi sebuah kebaikan bagi kita sebagai hambaNya, belum tentu baik dimata Allah, begitupun juga sebaliknya apa yang menjadi sebuah keburukan bagi hambaNya justru akan menjadi sebuah kebaikan dimata Allah SWT. Dan pada akhirnya permohonan kita melalui do’a-do’apun Allah berkehendak Pertama, Allah mengabulkan do’anya secara langsung begitu selesai dia sampaikan sesuai dengan permohonannya. Kedua, ditunda sampai Allah menghendaki untuk mengabulkannya pada saat dia sangat membutuhkan Ketiga, ditangguhkan sampai datang Hari Kiamat sebagai catatan amalnya yang dapat menyelamatkannya dari api neraka. Maka dari itu akupun mulai menyerahkan segala sesuatunyu hanya kepada Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segalanya.

Selain keyakinan diatas yang memang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi tentang keimanan terhadap Allah, Namun ada yang menjadi kegelisahan dalam diri ini tentang lika-likunya perjalan hidup ini, bisa jadi apa yang kita cita-citakan memang tertunda atau bahkan tidak tercapai sama sekali diakibatkan karena ada salah satu diantara teman kita, orang tua, keluarga atau bahkan oranglain sekalipun yang tidak meridoi terhadap keingingan untuk mencapai keinginan yang kita cita-citakan. Mereka mungkin pernah tersakiti hatinya oleh ucapan ataupun tindakan kita, sehingga memunculkan kebencian terhadap kita lalu secara reflek diapun mendo’akan kita atas ketidak rido’annya, padahal kita sama-sama telah mengetahui bahwa salah satu doa yang diijabah dan tidak ada hijab diantara do’a dengan Allah adalah do’anya orang yang teranianya.

Perasaan berdosa itu selalu menghinggapi hingga saat ini, terlepas dari keingingan diri untuk melancarkan segala urusan, yang jelas aku hanya ingin menggapai rido Allah SWT dalam mengarungi kehidupan ini. Maafkan aku bagai siapa saja yang pernah tersakiti oleh laku lampahku.



No Responses Yet to “Tertundanya Sesuatu Yang Teristimewa”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.